PLUS MINUS HEDONISME (Di Kalangan Remaja)

September 22, 2010
By darirumahku

Hedonisme adalah sebuah aliran filsafat Yunani – dicetuskan oleh Aristipos dan Epikuros – yang bertujuan menghindari kesengsaraan dan penderitaan dengan menikmati kebahagiaan hidup duniawi sebanyak mungkin. Ketika kekaisaran Romawi menguasai Eropa dan Afrika, muncullah semboyan baru hedonisme, yaitu carpe direm, yang berarti ‘raihlah kenikmatan sebanyak mungkin selagi engkau hidup’. Sejak itu dalam hedonisme kebahagiaan dimaknai sebagai kenikmatan duniawi semata-mata.

Seiring perkembangan zaman dan teknologi, maka kebutuhan manusia pun semakin bertambah dan beragam. Dan ketika tumbuh juga kebutuhan untuk dipandang sebagai manusia eksklusif, yang kemudian dianggap sebagai harga mati maka yang terjadi adalah serangan virus hedonis yang meluas, hingga ke kalangan remaja sekalipun. Mereka – sering tanpa mempedulikan kemampuan orang tua – terseret, atau dengan sengaja menenggelamkan diri, dalam arus hedonisme. Terutama kalangan remaja perkotaan.

Tengok saja, betapa banyaknya remaja yang lalu lalang di mall atau pusat-pusat keramaian dengan telepon genggam model mutakhir di tangan, dengan pakaian dan aksesoris serba mahal, dengan gestur yang membahasakan eksklusifitas diri, berbelanja barang-barang mewah yang mahal dan bermerk. Sudah nyaris menjadi suatu hal yang dimahfumi memang, tapi bukan berarti tidak perlu dicermati dan disikapi dengan benar – agar remaja kita tidak menjadi hedonis-hedonis yang mendewakan segala jenis kenikmatan duniawi. Perlu diingat bahwa hedonisme sangat dekat dengan narkoba dan perilaku seks bebas.

Sebenarnya hedonisme memiliki aspek negatif dan positif, namun orang lebih banyak melihat aspek negatifnya, karena gaya hidup hedonis nampaknya hanya sebuah hal yang berkutat seputar sensasi saja. Ada dua level hedonisme, yaitu level individual dan level sosial. Jika berada dalam level individual, maka masih dapat dikatakan positif, karena bagaimanapun setiap orang berhak untuk mendapatkan kebahagiaan. Terutama jika didahului dengan sebuah usaha dan kerja keras. Hedonisme akan menjadi masalah jika sudah memasuki level sosial, ketika lingkungan sekitar mengalami krisis dan sekian banyak kesulitan hidup, tapi ada sebagian orang sibuk berfoya-foya dengan gaya yang super ‘wah‘ – berkesan tidak berempati pada kondisi sekitar. Dan hedonisme di kalangan remaja terjadi terutama karena remaja belum memiliki filter diri yang baik, masih belum memiliki banyak pengalaman, remaja juga berada dalam masa pencarian diri sementara mereka belum memiliki mekanisme pengendalian diri yang kuat, sehingga lebih rentan terpapar virus hedonisme. Kondisi ini diperburuk oleh kehidupan perkotaan dengan ruangnya yang besar di mana orang-orang yang tidak saling mengenal, sehingga keinginan untuk menunjukkan identitas dan posisi diri semakin besar. Pada remaja, status simbolnya adalah ingin tampil beda, tanpa berpikir apakah itu pantas atau tidak untuk dirinya.

Wajar saja memang jika remaja ingin mencoba sesuatu yang baru, bergaul, dan sebagainya. Namun semua itu harus memiliki batasan-batasan, dan batasannya tidak dapat disamakan dengan yang dimiliki orang dewasa. Jika remaja sudah melampaui batas, maka orang tua wajib menghentikannya. Dengan menetapkan aturan-aturan baru yang mempersempit geraknya, sebaiknya dilakukan secara bertahap namun tetap tegas. Misalnya mengurangi uang jajan, menerapkan jam malam, dan sebagainya.

Remaja berada dalam periode yang sangat labil secara emosional dan dunia mereka tengah bergeser dari keluarga menjadi lingkungan pergaulan. Maka jika mereka ‘berbeda’ dengan kelompoknya, mereka akan  merasa tidak nyaman, takut tidak diterima atau disebut ‘aneh’ dan sebagainya. Orang tua harus dapat mengarahkan pola pikir seperti itu agar mereka tidak terjerumus dan menjadikan hedonisme sebagai gaya hidup.

Orang tua adalah tokoh utama dalam  pembentukan kepribadian seorang remaja. Orang tua harus menanamkan nilai-nilai positif sejak dini pada anak. Orang tua harus terbuka dan tidak memandang remeh kemampuan remaja-remaja mereka dalam merespon keterbukaan tersebut. Dukungan yang kuat dari keluarga akan membentuk pribadi yang kuat pula, sehingga menjadi tameng dari hal-hal negatif di luar rumah. Dukungan dapat membuat anak merasa nyaman dan memiliki self-esteem yang kuat.

Namun bila remaja kita terlanjur konsumtif, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh para orang tua:

Berdialog. Komunikasi adalah kunci utama dalam terciptanya hubungan yang harmonis antara anak dengan orang tua. Namun, masih banyak sekali orang tua yang merasa tidak harus mendiskusikan segala seuatu dengan anaknya. Sehingga yang terjadi adalah komunikasi satu arah, di mana tugas tinggal mematuhi saja. Padahal larangan tanpa didasari alasan yang jelas dan logis hanya akan memicu pemberontakkan dari si anak. Dengan berdiskusi orang tua menjadi tahu apa yang dirasakan, diinginkan, dan dipikirkan oleh anak. Dengan berbicara, anak juga menjadi tahu, mengerti, dan memahami kondisi-kondisi yang tengah dialami orang tuanya.

Pembatasan uang saku. Hedonisme identik dengan materi, oleh karena itu orang tua harus dapat menetapkan batasan dengan cermat dan cerdas. Pembatasan ini dimaksudkan agar anak tidak menjadi pribadi yang instan.

Melakukan kegiatan positif. Orang tua perlu mendorong anak melakukan kegiatan-kegiatan positif yang dapat mengembangkan bakat dan potensi anak. Dengan demikian anak lebih fokus untuk berprestasi.

Karena anak banyak menghabiskan waktunya di sekolah, maka pihak sekolah – dalam hal ini para guru dan pendidik – juga memiliki peranan yang besar. Diharapkan sekolah dapat menetapkan peraturan yang membuat anak-anak berpenampilan sederhana dan sesuai dengan usia mereka. Misalnya seragam sekolah untuk siswi tidak boleh pendek,  sepatu dan tas tidak boleh bermerk, tidak boleh membawa kendaraan bermotor dan barang-barang elektronik yang mahal ke sekolah. Selain itu juga memberikan pelajaran budi pekerti dan mewajibkan semua siswanya menabung di koperasi. Agar mereka selalu diingatkan bahwa masa depan yang cerah tidak dapat diraih dengan berfoya-foya, bahwa kebahagiaan sama sekali tidak identik dengan hedonisme.

Popularity: 28% [?]

Related posts:

Most Popular Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*